Kenali Perbedaan Model Bisnis B2B & B2C untuk Efektivitas Strategi Bisnis Online Anda
Marketing
29 June 2022
Menurut sebuah studi, 69% penduduk di negara Amerika telah nyaman untuk berbelanja secara online, dengan alasan kemudahan untuk berbelanja di mana saja, baik itu dari tempat tidur, dari tempat kerja, dari kafe, bahkan dari kamar mandi. Hal ini merupakan faktor daya tarik terbesar dari bertumbuhnya kegiatan berbelanja online.
Dalam artikel ini, mari kita lihat perbedaan kunci antara B2C dan B2B yang merupakan dua model e-commerce utama yang beroperasi saat ini dan bagaimana cara membedakannya.
B2C
Apa yang Dimaksud dengan e-Commerce Berbasis B2C?
Business-to-Consumer (B2C) adalah suatu bentuk bisnis dimana pembelian dan penjualan berlangsung dalam internet, dan tentunya pelanggan dalam jenis bisnis e-commerce ini adalah individu yang membeli barang untuk keperluan konsumsi normal, tanpa menghasilkan transaksi lebih lanjut.
Sebagai contoh ketika Anda berbelanja secara online untuk membeli pakaian dari toko fashion online, atau membeli hp untuk digunakan, kedua transaksi tersebut adalah bentuk dari model bisnis B2C.
Untuk mengoperasikan model ini, bisnis, perusahaan, dan toko perlu membuat saluran penjualan online seperti website, halaman penggemar Facebook, dan masih banyak lagi. Karena sifatnya yang relatif sederhana, tanpa persyaratan teknis yang tinggi, serta hubungan hukum dan negosiasi, setiap bisnis atau toko dapat memilih B2C sebagai model bisnis utamanya.
Apa Saja Karakteristik dari Model Bisnis B2C?
Fitur utama dari model e-commerce berbasis B2C adalah pelanggannya yang merupakan pengguna individu. Pengguna hanya perlu menggunakan internet dan membeli produk untuk memenuhi kebutuhan mereka, tetapi tidak menghasilkan transaksi tambahan.
Karena pengguna bersifat individu, tidak diperlukan adanya negosiasi terlalu banyak antara kedua belah pihak. Karena semua ketentuan pembelian, harga, kebijakan, retur dan barang sudah tertulis secara detail pada website penjualan atau toko online.
Misalnya, jika Anda membuat website khusus untuk menjual bahan makanan, Anda hanya perlu mengunggah gambar, informasi produk, harga, syarat pengiriman, pembayaran online, dan sebagainya. Pelanggan Anda akan mengunjungi website dan mengikuti petunjuk untuk melakukan pemesanan. Pekerjaan yang tersisa untuk Anda hanyalah mengemas produk untuk pelanggan, tanpa perlu usaha ekstra.
B2B
Apa yang Dimaksud dengan Model Bisnis B2B?
Business-to-Business merupakan bentuk bisnis di mana aktivitas perdagangan terjadi antara dua bisnis dan berlangsung pada perdagangan e-commerce dari masing-masing perusahaan. Ketika model bisnis B2B digunakan, yaitu ketika pelanggan (suatu bisnis) membeli dari bisnis tertentu, yang kemudian perusahaan atau bisnis tersebut akan terus menggunakan produk tersebut untuk dijual kembali pada pelanggan hingga pengguna akhir.
Pelanggan dalam model B2B di sini bukan individu, melainkan perusahaan, bisnis, atau toko, sehingga nilai kontrak, pesanan seringkali dalam jumlah besar, tidak dapat diperdagangkan di situs e-commerce tetapi diharuskan menandatangani kontrak eksternal (jika diperlukan).
Apa Saja Contoh Pengaplikasian Model Bisnis B2B?
Website perdagangan e-commerce B2B yang paling umum adalah Amazon, Alibaba, Taobao, e-Bay, Lazada, Shopee, dan masih banyak platform lainnya. Hal ini merupakan aktivitas perdagangan di bawah naungan bursa, sehingga penipuan sangat kecil kemungkinannya terjadi, menjadikannya pilihan bisnis yang menjunjung keterbukaan dan transparansi.
Model B2B populer berikutnya adalah model yang khusus dalam mendistribusikan barang, dengan kata sederhana, grosir. Model ini lebih populer dalam industri mode dan pakaian jadi, melihat banyaknya website yang menjual pakaian grosir di seluruh negara.
Hal ini hampir sama seperti model bisnis offline pasar grosir, namun dengan cara yang tradisional. Toko dan pemilik toko kecil di seluruh dunia dapat mengunjungi lokasi pabrik garmen, memilih produk, kuantitas, harga, dan kemudian melanjutkan untuk membayar pesanan.
Hampir setiap industri memiliki website e-commerce dengan model bisnis seperti ini. Model bisnis ini dapat dianggap sebagai model perdagangan yang paling populer di Vietnam saat ini, jika dibandingkan dengan model B2B menengah.
Kunci Perbedaan Model Bisnis B2B & B2C
Profil Konsumen
Konsumen biasanya menginginkan platform belanja yang efisien, dan kenyamanan adalah daya tarik utama dalam berbelanja secara online, gangguan yang mungkin dialami oleh pembeli harus dijaga seminimal mungkin.
Kita semua setidaknya pasti pernah mengalami dimana keranjang belanja pada toko online bermasalah, atau mengalami sistem check-out yang rumit. Dengan model bisnis B2C, pembeli biasanya merupakan satu orang dan tujuannya adalah agar orang tersebut mau melakukan transaksi dan menyelesaikan pembayaran dengan se-efisien mungkin.
Hal ini tidak terjadi pada model bisnis B2B di dunia e-commerce, pembeli memiliki motivasi oleh alasan profesional, tugas mereka untuk mencari pemasok. Fokus utama bagi mereka adalah keuntungan, bukan kenyamanan. Konsumen tunggal memiliki domain lengkap atas kartu kredit mereka, sementara pembeli dalam model B2B mungkin memerlukan persetujuan dari komite atau manajer perusahaan atau bisnis yang mereka jalankan. Seringkali platform B2B mengizinkan banyak akun dari suatu bisnis, dengan akun manajerial untuk memberikan persetujuan akhir atas suatu transaksi.

Negosiasi Bisnis
Penjualan produk seperti pakaian, perangkat seluler, dan botol parfum tidak memerlukan terlalu banyak negosiasi dengan pelanggan, itulah bedanya saat menerapkan model bisnis B2C karena seluruh syarat dan ketentuannya sudah ada dan lengkap.
Tidak masalah apakah mereka akan membelinya atau tidak, masih ada pelanggan lain. Tetapi jika Anda menerapkan model bisnis B2B, Anda perlu tahu keterampilan bernegosiasi, seperti negosiasi harga, kualitas barang, pembayaran, pengiriman, penagihan utang dan sebagainya.
Hubungan dengan Konsumen
Model bisnis e-commerce B2B bergantung pada hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Setelah puas dengan pemasok produk mereka, biasanya perusahaan atau bisnis tertentu akan sering memesan ulang beberapa kali.
Hal ini membuktikan bahwa platform perlu disesuaikan untuk membuat pemesanan ulang senyaman mungkin. Meskipun hal ini juga harus diterapkan pada platform B2C, sifat transaksi yang sporadis dan satu kali saja memiliki arti hubungan antara pemasok dan pelanggan akan lebih cepat berlalu.
Dinamika jangka panjang hubungan dalam model bisnis B2B berarti bahwa sebagai pelanggan, bisnis memiliki nilai yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan konsumen pada model bisnis B2C. Titik harga rata-rata transaksi dalam model bisnis e-commerce B2B dibandingkan B2C yang jauh lebih besar memperkuat dinamika ini.
Meskipun lebih sulit untuk diubah menjadi penjualan, sebuah bisnis jauh lebih berpotensi untuk memesan dalam jumlah yang lebih besar, dan juga dengan titik harga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Integrasi Sistem

Untuk bisnis online yang berjalan dengan sukses, website e-commerce atau webstore saat ini harus sepenuhnya terintegrasi dengan sistem bisnis. Namun jika Anda ingin berbisnis dengan model B2C, maka website Anda tidak perlu terlalu banyak terintegrasi dengan fitur penjualan yang rumit.
Tetapi, sebaliknya jika Anda ingin menjalankan model bisnis berbasis B2B, Anda perlu mengintegrasikan sistem trading yang lebih rumit. Selalu jaga pelanggan dari bisnis Anda dengan sistem otomatis, seperti email, kutipan, gateway pembayaran, kontrak, pengiriman, dan masih banyak lagi.
Strategi Pemasaran
Model bisnis e-commerce dengan model B2B biasanya memiliki target pasar yang terfokus secara sempit, misalnya, Airbus akan berusaha untuk menarik perusahaan penerbangan atau departemen pertahanan dan perlu menyesuaikan interaksi pelanggan mereka dengan tepat. Bisnis dengan model B2C akan perlu menyasar demografi yang jauh lebih luas, mungkin seperti untuk ibu muda misalnya, atau para pemain basket. Pada dasarnya adalah untuk menjaring jaringan yang jauh lebih luas.
Jelas dari contoh ini terlihat bahwa tidak ada pendekatan menyeluruh untuk setiap model bisnis dalam e-commerce. Ketika pembeli dari sebuah bisnis mencari produk atau layanan, kita dapat berasumsi bahwa dia akan memiliki pengetahuan tentang manfaat produk dan sebaliknya akan fokus pada fitur produk. Sedangkan konsumen kelas atas jauh lebih emosional, yang berarti manfaat produk harus ditampilkan dengan jelas dan mudah dicerna dalam setiap platform.
Semoga artikel ini membantu Anda untuk lebih memahami dua model bisnis e-commerce B2B dan B2C lebih dalam. Terlepas dari model bisnisnya, Anda memerlukan saluran penjualan online, dan kami selalu menyarankan Anda membuat channel yang sempurna sebagai saluran penjualan utama, dan saluran yang tersisa harus Anda gunakan sebagai platform untuk menjaring calon pelanggan, sehingga pemasaran akan jauh lebih baik.
Faktor penting tetap berasal dari pengalaman pengguna akhir. Mengembangkan platform, yang intuitif bagi pengguna dan terintegrasi dengan sistem yang juga profesional, merupakan kebutuhan untuk berbisnis dalam pasar e-commerce.
Mengatur bisnis secara online memanglah bukan proses yang mudah, cepat, ataupun terukur dengan pasti. Oleh karena itu jika Anda masih memerlukan bantuan profesional, Jet Commerce hadir dengan solusi UPFOS.
UPFOS merupakan sistem omni-channel terintegrasi di Indonesia berupa aplikasi manajemen marketplace, yang dapat membantu Anda dalam berbagai proses bisnis baik B2B maupun B2C, seperti: mengelola multi saluran penjualan, pengaturan persediaan stok & inventaris, multi promosi, CRM, laporan bisnis & banyak fungsi lainnya. Memberikan Anda pengalaman manajemen e-commerce yang mudah, serta lengkap dalam satu dashboard yang sama.
Sistem UPFOS memungkinkan Anda untuk menjual produk di mana pun pelanggan Anda berada, baik secara online, tatap muka, maupun keduanya dengan satu sistem yang sama dan terpusat. Berbisnis di banyak marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, BukaLapak, JD.ID, Blibli, dan lainnya bukanlah lagi sebuah masalah dengan UPFOS.
Reference: fram