Kenali Statistik Pengabaian Keranjang Belanja Toko Online & Strategi Mengatasinya
Marketing
26 April 2022
Menurut data dari Baymard Institute, hampir sebanyak 69,57% keranjang belanja online ditinggalkan. Untuk setiap 100 calon pelanggan, 70 dari mereka akan pergi tanpa membeli. Berapa banyak pendapatan Anda yang akan meningkat jika Anda menangkap penjualan tersebut alih-alih kehilangannya?
Mari kita lihat contoh singkatnya. Jika saat ini Anda mampu menghasilkan $15.000/bln dalam pendapatan online dan dapat mengubah 25% saja dari pesanan yang ditinggalkan itu menjadi penjualan, Anda mungkin dapat memperoleh tambahan penghasilan sekitar $45.000 setiap tahun.
Pengabaian keranjang menyebabkan bisnis online sangat kesulitan. Maka dari itu, dalam artikel ini, kami akan mencoba membagikan beberapa statistik pengabaian keranjang belanja untuk menjelaskan mengapa pengguna dan calon pelanggan meninggalkan keranjang mereka dan apa yang dapat Anda lakukan mengenai hal tersebut. Dengan berbekal pengetahuan ini, berarti Anda selangkah lebih dekat untuk mengubah calon pelanggan menjadi pelanggan.
Bagaimana Rentang Rasio Pengabaian Keranjang Belanja Online?
Riset dari Baymard Institute menunjukkan bahwa rasio pengabaian keranjang belanja dapat dibedakan berdasarkan perangkat aksesnya. Perangkat seluler dan tablet merupakan perangkat dengan rasio pengabaian keranjang tertinggi :

Lokasi pelanggan Anda juga berperan dalam seberapa besar kemungkinan mereka meninggalkan keranjang belanja online . Sekitar 86,15% keranjang belanja di negara Spanyol ditinggalkan di tengah jalan. Di sisi lain, pelanggan di negara Belanda memiliki tingkat pengabaian terendah yaitu 65,49%.
Produk atau item tertentu juga memiliki tingkat penurunan yang lebih besar. Produk dalam kategori pakaian rajut, barang kulit, dan pakaian dalam wanita paling rentan terhadap “window shoppers”.
Banyak faktor yang berperan dalam pengabaian keranjang toko online, jadi dapat dikatakan bahwa sebagian besar orang yang menambahkan produk ke dalam keranjang belanja mereka tidak menyelesaikan pembelian oleh beberapa alasan tertentu. Namun, bukan berarti hal ini tidak dapat ditangani.
Dampak dari Pengabaian Keranjang Belanja Toko Online
Saat calon pelanggan memilih tombol keluar dibanding tombol “menyelesaikan pesanan”, hal tersebut menyebabkan hilangnya pendapatan untuk bisnis Anda. Dilaporkan bahwa toko e-commerce kehilangan hingga $18 miliar pendapatan penjualan setiap tahun karena pengabaian keranjang ini.
Jadi, apa yang terjadi setelah pelanggan meninggalkan webstore atau toko online Anda di marketplace? Riset dari Statista menemukan bahwa, ketika pembeli di negara Inggris meninggalkan keranjang belanja, kurang dari sepertiganya kembali untuk membelinya. Sedangkan, seperempat dari mereka membeli produk yang sama dari kompetitor.

Apa yang Menyebabkan Pelanggan Mengabaikan Keranjang Belanja Mereka?
Biaya Tambahan yang Terlalu Banyak
Untuk lebih dari setengah pelanggan yang berbelanja secara online, pengiriman gratis adalah insentif yang paling efektif dalam meyakinkan mereka untuk membeli sesuatu dari toko online. Hal ini juga diikuti oleh penggunaan kupon dan diskon (yaitu sebesar 41%).
Biaya jelas sangat penting bagi pembeli, jadi tidak mengherankan jika banyak ditemukan di lapangan bahwa biaya tambahan apa pun yang dikenakan saat transaksi pembayaran menjadi penyebab utama pengabaian keranjang.
Biaya tambahan seperti dalam pengiriman, pajak, dan biaya tambahan lainnya, tidak selalu jelas bagi pelanggan. Ketika mereka memasukkan produk ke dalam keranjang online mereka dan melihat biaya terkait ditambahkan diatas setiap harga produk, hal tersebut menyebabkan kurang lebih 49% pengabaian keranjang terjadi.
Meminta Pembuatan Akun
Pelanggan yang berbelanja pertama kali ke toko online Anda menginginkan pengalaman checkout yang cepat dan mulus. Hal ini tidak terjadi ketika mereka diminta untuk membuat akun terlebih dahulu. Sebanyak 24% orang meninggalkan keranjang belanja dari toko online yang mereka kunjungi karena webstore tersebut meminta mereka membuat akun terlebih dahulu.
Kolom yang memakan waktu, seperti tanggal lahir dan nomor telepon, tidak begitu penting ketika pelanggan ingin membeli produk secara online. Bagi sebagian pembeli, hal tersebut menciptakan rasa frustasi karena harus memberikan semua informasi itu dalam satu pembelian, dan itulah sebabnya hampir seperempat (24%) pengabaian keranjang terjadi karena webstore meminta mereka untuk membuat akun.
Bahkan ketika seseorang sudah memiliki akun sebelumnya, namun teringat proses login yang kurang mudah atau mulus, juga dapat membuat mereka malas untuk menyelesaikan pembelian. Menawarkan opsi checkout sebagai tamu (guest mode) atau opsi checkout yang dipercepat, seharusnya bisa menjadi alternatif yang cukup efektif dalam menyelesaikan masalah ini.
Proses Pembayaran yang Rumit
Tahukah Anda bahwa rata-rata alur transaksi pembayaran di AS berisikan 23 elemen formulir secara default? Nama, alamat, dan tanggal lahir adalah bagian dalam formulir populer yang membantu toko online untuk memahami pelanggan mereka. Tetapi, pencarian Anda akan informasi tersebut dapat menyebabkan mereka keluar dari website atau toko online Anda.
Hamopir 18% orang meninggalkan keranjang belanja mereka karena proses checkout yang panjang dan rumit. Hal ini dapat diantisipasi dengan membuang formulir-formulir yang tidak perlu pada saat melakukan checkout dan juga penggunaan fasilitas pembayaran yang mudah seperti virtual account, digital wallet, online banking, dan fasilitas pembayaran lainnya agar transaksi dapat selesai dengan cepat, bahkan hitungan detik.
Penjumlahan Harga yang Tidak Jelas
Biaya pengiriman yang tinggi adalah penyebab utama pengabaian keranjang belanja. Dalam hal yang sama, banyak (17%) pembeli meninggalkan keranjang mereka karena mereka tidak dapat menghitung total biaya pesanan dimuka.
Pelanggan dapat dikenakan biaya tambahan saat membeli secara online, terutama jika mereka membeli dari negara lain. Pajak impor dan konversi mata uang semuanya berperan dalam menentukan apakah produk Anda layak dibeli atau tidak.
Pada tahun 2020, hampir 1,4 juta orang di Amerika dilaporkan menjadi korban pencurian identitas. Dengan informasi sensitif seperti; nomor kartu kredit dan alamat rumah yang dikirimkan melalui pembayaran online, tidak heran mengapa pembeli saat ini lebih mengkhawatirkan privasi mereka saat berbelanja online.
Sekitar 17% orang meninggalkan keranjang belanja online mereka karena mereka tidak mempercayai website atau platform tertentu dengan informasi kartu kredit mereka.
Strategi Mengatasi Pengabaian Keranjang Belanja
Berikan Beberapa Alternatif Metode Pembayaran
Sudah menjadi ketinggalan jaman dimana pelanggan harus memasukkan nomor kartu panjang mereka ke browser mereka. Sekitar 7% orang meninggalkan keranjang belanja mereka karena retail atau toko online yang bersangkutan tidak menawarkan metode pembayaran yang memadai.
Di Indonesia sendiri, ada beberapa metode pembayaran yang paling sering digunakan:
- Aplikasi Belanja (Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, JD.ID, BliBli, dsb)
- Dompet digital (GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, GooglePay)
- Beli sekarang, bayar nanti (GoPay Later, ShopeePay later,OVOPay Later, Kredivo, dsb)
Tawarkan Promo Gratis/ Diskon Ongkir
Tidak diragukan lagi bahwa kehadiran marketplace telah banyak mengubah cara orang dalam berbelanja online, apalagi dengan adanya pengiriman gratis. Pertimbangkanlah untuk menawarkan pengiriman gratis kepada pelanggan dan menampilkannya dengan jelas dalam proses pembayaran Anda. Anda dapat menutupi biaya pengiriman untuk pesanan dalam jumlah tertentu, atau memasukkan biaya rata-rata pengiriman ke dalam harga eceran dari produk Anda.
Namun, jika bisnis Anda masih berskala medium atau kecil, mungkin Anda bisa memasuki marketplace dan memanfaatkan fasilitas subsidi gratis ongkir yang sering mereka tawarkan. Hal ini tentunya dapat didapat dengan memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai dengan ketentuan dari masing-masing marketplace, namun tidak ada salahnya untuk mencoba.
Targetkan Ulang Pelanggan yang Meninggalkan Keranjang Pada Area Online Lainnya
Keindahan berbelanja secara online adalah sebagian besar pelanggan menggunakan beberapa saluran sekaligus. Slot iklan dalam media sosial, e-mail, dan website lainnya adalah tempat utama untuk mengurangi pengabaian keranjang belanja.
Penelitian menunjukkan bahwa penargetan ulang dapat mengurangi pengabaian keranjang belanja sebesar 6,5%, dan meningkatkan penjualan online hampir 20%. Plus, tiga dari empat pembeli melihat iklan yang ditargetkan secara berulang. Dari konsumen tersebut, lebih dari seperempat (26%) akan mengklik iklan yang ditargetkan ulang dan kembali ke dalam webstore atau toko online Anda di marketplace.
Facebook adalah salah satu platform media sosial yang dapat memudahkan untuk menargetkan ulang pembeli yang meninggalkan barang dalam keranjang online mereka.
Gunakan Platform e-Commerce yang Terpercaya
Perjalanan untuk mendapatkan kembali pendapatan dalam toko online yang hilang tidak hanya bermuara pada halaman pembayaran. Seluruh pengalaman pengguna juga ikut mempengaruhi seberapa besar kemungkinan pelanggan menyelesaikan pembelian mereka. Keberhasilan itu berakar pada pemilihan platform e-commerce terbaik dan berkualitas.
Periksa apakah platform e-commerce yang Anda gunakan senantiasa responsif. Pengabaian keranjang belanja adalah hal yang tertinggi untuk pengguna tablet dan perangkat seluler. Jika waktu muat Anda terlalu lama, atau halaman perlu berkali-kali ditekan untuk masuk, Anda memberikan pengalaman perangkat seluler yang buruk dan kemungkinan berkontribusi pada tingkat pengabaian keranjang belanja yang lebih tinggi.
Sekian beberapa tips dan informasi yang dapat kami berikan seputar pengabaian keranjang online dan juga stretegi dalam mengatasinya. Namun, jika Anda masih membutuhkan bantuan dalam hal ini, Jet Commerce hadir untuk memberikan Anda solusi e-commerce enabler berkualitas di Indonesia.
Jet Commerce merupakan salah satu penyedia e-commerce solution Indonesia yang bergerak pada sektor B2B dan B2C di Jakarta. Sebagai perusahaan e-commerce enabler terpercaya se-Asia Tenggara, Jet Commerce menawarkan solusi terdepan yang dapat mendukung performa bisnis Anda di e-commerce dengan sistem UPFOS.
Menjual produk secara online melalui website e-commerce Anda sendiri tidak pernah mudah, cepat, atau terukur dengan pasti. Maka dari itu, UPFOS sebagai salah satu sistem omni-channel berkualitas di Indonesia dapat menjadi salah satu platform yang memungkinkan Anda untuk menjual produk di mana pun pelanggan Anda berada, baik secara online, tatap muka, maupun keduanya dengan satu sistem yang sama dan terpusat.
UPFOS merupakan solusi omni-channel terintegrasi di Indonesia berupa aplikasi manajemen marketplace, yang dapat membantu Anda dalam berbagai proses bisnis seperti: mengelola multi saluran penjualan, pengaturan persediaan stok & inventaris, multi promosi, CRM, laporan bisnis & banyak fungsi lainnya. Memberikan Anda pengalaman manajemen e-commerce yang mudah, serta lengkap dalam satu dashboard yang sama. Berbisnis di banyak marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, BukaLapak, JD.ID, Blibli, dan lainnya bukanlah lagi sebuah masalah dengan sistem UPFOS. Dapatkan layanan omni-channel berkualitas hanya dari UPFOS untuk bisnis Anda di sini.
Reference: Shopify